Ketahui 7 Manfaat Daun Prei yang Jarang Diketahui

Sabtu, 12 Juli 2025 oleh journal

Konsumsi daun prei memberikan sejumlah dampak positif bagi kesehatan. Sayuran ini mengandung berbagai nutrisi penting, termasuk vitamin, mineral, dan serat. Kandungan tersebut berkontribusi pada peningkatan daya tahan tubuh, kesehatan pencernaan, dan potensi perlindungan terhadap penyakit tertentu. Selain itu, senyawa aktif di dalamnya memiliki sifat antioksidan dan anti-inflamasi yang bermanfaat bagi tubuh.

"Daun prei, meski seringkali dianggap sebagai bumbu pelengkap, menyimpan potensi kesehatan yang signifikan. Kandungan nutrisinya yang beragam menjadikannya layak untuk dipertimbangkan sebagai bagian dari diet seimbang."

Ketahui 7 Manfaat Daun Prei yang Jarang Diketahui

- Dr. Anindita Putri, Spesialis Gizi Klinik.

Penelitian modern semakin menguatkan pandangan tradisional mengenai khasiat sayuran ini.

Daun prei kaya akan senyawa organosulfur, seperti allicin, yang juga ditemukan pada bawang putih dan bawang merah. Senyawa ini memiliki sifat antioksidan dan anti-inflamasi, yang dapat membantu melindungi sel-sel tubuh dari kerusakan akibat radikal bebas dan mengurangi peradangan kronis. Selain itu, kandungan seratnya yang tinggi mendukung kesehatan pencernaan dengan melancarkan buang air besar dan memelihara keseimbangan mikrobiota usus. Beberapa studi juga menunjukkan potensi kandungan flavonoid dalam membantu menurunkan risiko penyakit jantung. Untuk mendapatkan manfaat optimal, konsumsi daun prei dalam jumlah sedang sebagai bagian dari masakan sehari-hari sangat dianjurkan. Penting untuk diingat bahwa manfaat ini didapatkan melalui konsumsi rutin sebagai bagian dari pola makan seimbang, bukan sebagai pengobatan tunggal.

Manfaat Daun Prei

Daun prei, sebagai bagian dari diet, menawarkan serangkaian manfaat kesehatan yang signifikan. Manfaat-manfaat ini berasal dari kandungan nutrisi yang beragam dan senyawa bioaktif yang ada di dalamnya.

  • Imunitas tubuh
  • Pencernaan sehat
  • Antioksidan kuat
  • Anti-inflamasi
  • Jantung sehat
  • Kesehatan tulang
  • Regulasi gula darah

Manfaat daun prei terhadap imunitas tubuh berasal dari kandungan vitamin C dan antioksidan yang melindungi sel dari kerusakan. Seratnya menunjang pencernaan yang sehat, sementara senyawa anti-inflamasi dapat meredakan peradangan kronis. Kandungan kalium berkontribusi pada kesehatan jantung. Secara keseluruhan, konsumsi daun prei sebagai bagian dari pola makan seimbang dapat memberikan dampak positif pada kesehatan secara menyeluruh, meskipun bukan sebagai pengganti pengobatan medis.

Imunitas Tubuh

Sistem imun tubuh merupakan garda terdepan dalam melindungi diri dari serangan patogen, seperti virus dan bakteri. Dukungan nutrisi yang tepat sangat krusial untuk menjaga fungsi optimal sistem ini. Konsumsi sayuran tertentu, termasuk daun prei, dapat berkontribusi pada peningkatan daya tahan tubuh melalui kandungan nutrisinya.

  • Vitamin C sebagai Antioksidan

    Daun prei mengandung vitamin C yang berperan sebagai antioksidan. Antioksidan membantu menetralkan radikal bebas yang dapat merusak sel-sel imun dan melemahkan respons imun tubuh. Asupan vitamin C yang cukup dapat membantu mengurangi risiko infeksi dan mempercepat penyembuhan.

  • Kandungan Allicin dengan Sifat Antimikroba

    Senyawa allicin, yang juga ditemukan pada bawang putih, terdapat dalam daun prei. Allicin memiliki sifat antimikroba yang dapat membantu melawan infeksi bakteri dan virus. Meskipun jumlah allicin dalam daun prei mungkin lebih rendah dibandingkan bawang putih, kontribusinya tetap signifikan dalam mendukung sistem imun.

  • Serat sebagai Pendukung Kesehatan Usus

    Kesehatan usus memiliki kaitan erat dengan sistem imun. Sebagian besar sel imun tubuh berada di saluran pencernaan. Serat yang terkandung dalam daun prei membantu menjaga keseimbangan mikrobiota usus, yang pada gilirannya dapat meningkatkan fungsi imun. Mikrobiota usus yang sehat dapat membantu melawan patogen dan merangsang produksi sel imun.

  • Mineral Penting untuk Fungsi Imun

    Daun prei mengandung mineral seperti zinc dan selenium, meskipun dalam jumlah kecil. Mineral-mineral ini berperan penting dalam fungsi sel imun dan produksi antibodi. Kekurangan zinc dan selenium dapat melemahkan sistem imun dan meningkatkan risiko infeksi.

Dengan demikian, konsumsi daun prei sebagai bagian dari pola makan seimbang dapat memberikan dukungan tambahan bagi sistem imun. Kombinasi vitamin, mineral, serat, dan senyawa bioaktif di dalamnya berkontribusi pada peningkatan daya tahan tubuh secara keseluruhan. Perlu ditekankan bahwa daun prei bukanlah pengganti vaksinasi atau pengobatan medis, melainkan sebagai pelengkap untuk menjaga kesehatan secara optimal.

Pencernaan Sehat

Keterkaitan antara konsumsi daun prei dan kesehatan sistem pencernaan terletak pada kandungan serat, prebiotik, dan senyawa-senyawa aktif yang terdapat di dalamnya. Serat, khususnya serat larut dan tidak larut, memainkan peran krusial dalam menjaga fungsi optimal saluran cerna. Serat larut, seperti pektin, dapat membentuk gel di dalam usus, memperlambat proses pencernaan, dan membantu mengatur kadar gula darah. Sementara itu, serat tidak larut meningkatkan volume feses, mempermudah pergerakan usus, dan mencegah konstipasi.

Selain serat, daun prei juga mengandung prebiotik, yaitu senyawa yang tidak dapat dicerna oleh tubuh manusia tetapi menjadi makanan bagi bakteri baik (probiotik) di dalam usus. Pemberian nutrisi yang cukup bagi probiotik mendorong pertumbuhan dan aktivitasnya, sehingga menciptakan lingkungan usus yang seimbang. Keseimbangan mikrobiota usus ini penting untuk mencegah pertumbuhan bakteri jahat, meningkatkan penyerapan nutrisi, dan memperkuat sistem kekebalan tubuh yang sebagian besar berlokasi di saluran pencernaan.

Lebih lanjut, senyawa organosulfur yang terdapat dalam daun prei, seperti allicin, memiliki sifat antimikroba yang dapat membantu mengendalikan pertumbuhan bakteri patogen di dalam usus. Pengendalian bakteri patogen ini membantu mencegah terjadinya infeksi saluran cerna dan menjaga keseimbangan mikrobiota usus. Dengan demikian, konsumsi daun prei, sebagai bagian dari pola makan seimbang, dapat memberikan kontribusi positif terhadap kesehatan sistem pencernaan secara keseluruhan.

Antioksidan Kuat

Keberadaan senyawa antioksidan dalam sayuran ini memiliki korelasi signifikan dengan potensi kesehatan yang ditawarkannya. Antioksidan berperan penting dalam menetralkan radikal bebas, molekul tidak stabil yang dapat merusak sel-sel tubuh dan berkontribusi pada perkembangan berbagai penyakit kronis, seperti penyakit jantung, kanker, dan penuaan dini. Daun prei mengandung beberapa jenis antioksidan, termasuk vitamin C, flavonoid (seperti quercetin dan kaempferol), dan senyawa organosulfur.

Vitamin C, sebagai antioksidan larut air, melindungi sel-sel dari kerusakan akibat radikal bebas di lingkungan berair, baik di dalam maupun di luar sel. Flavonoid, di sisi lain, memiliki kemampuan untuk menetralkan berbagai jenis radikal bebas dan juga memiliki sifat anti-inflamasi, yang dapat membantu mengurangi peradangan kronis. Senyawa organosulfur, seperti allicin, selain memiliki sifat antimikroba, juga berkontribusi pada aktivitas antioksidan secara keseluruhan. Kombinasi berbagai jenis antioksidan ini memberikan perlindungan yang lebih komprehensif terhadap kerusakan seluler. Dengan demikian, asupan sayuran ini dapat membantu mengurangi stres oksidatif dan menurunkan risiko penyakit kronis yang terkait dengan kerusakan akibat radikal bebas.

Anti-inflamasi

Sifat anti-inflamasi merupakan salah satu kontributor signifikan terhadap potensi khasiat sayuran ini. Peradangan kronis, sebagai respons imun yang berkelanjutan, dikaitkan dengan berbagai penyakit serius, termasuk penyakit jantung, diabetes, arthritis, dan bahkan beberapa jenis kanker. Kemampuan untuk meredakan peradangan dalam tubuh memberikan dampak protektif terhadap kesehatan secara keseluruhan.

  • Quercetin dan Kaempferol: Flavonoid dengan Aksi Anti-inflamasi

    Flavonoid seperti quercetin dan kaempferol, yang terkandung dalam sayuran ini, dikenal memiliki efek anti-inflamasi. Senyawa ini bekerja dengan menghambat produksi mediator inflamasi, seperti sitokin dan prostaglandin, yang memicu dan memperparah proses peradangan. Dengan menekan produksi mediator ini, flavonoid membantu mengurangi intensitas respons inflamasi.

  • Allicin dan Senyawa Organosulfur Lainnya: Modulator Respons Imun

    Senyawa organosulfur, termasuk allicin, yang juga ditemukan pada bawang putih, memiliki kemampuan untuk memodulasi respons imun. Senyawa-senyawa ini dapat membantu menyeimbangkan respons imun, mencegah reaksi inflamasi yang berlebihan, dan mengurangi kerusakan jaringan akibat peradangan.

  • Pengurangan Risiko Penyakit Kronis Melalui Pengendalian Peradangan

    Dengan kemampuannya meredakan peradangan, asupan sayuran ini dapat membantu menurunkan risiko penyakit kronis yang terkait dengan peradangan. Pengendalian peradangan kronis dapat mengurangi kerusakan pembuluh darah, melindungi sel-sel pankreas, dan mencegah kerusakan sendi.

  • Perlindungan Terhadap Kerusakan Sel Akibat Radikal Bebas

    Peradangan seringkali disertai dengan peningkatan produksi radikal bebas, yang dapat memperburuk kerusakan jaringan. Sifat antioksidan yang dimiliki sayuran ini, selain efek anti-inflamasi, membantu melindungi sel-sel dari kerusakan akibat radikal bebas, sehingga semakin memperkuat efek perlindungannya terhadap peradangan.

  • Dukungan Terhadap Kesehatan Saluran Pencernaan

    Peradangan pada saluran pencernaan dapat menyebabkan berbagai masalah pencernaan, seperti sindrom iritasi usus (IBS) dan penyakit radang usus (IBD). Sifat anti-inflamasi dapat membantu meredakan peradangan pada saluran pencernaan dan memperbaiki fungsi pencernaan.

  • Potensi dalam Meredakan Gejala Arthritis

    Arthritis, sebagai kondisi peradangan pada sendi, dapat menyebabkan nyeri, kekakuan, dan keterbatasan gerak. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa senyawa anti-inflamasi dapat membantu meredakan gejala arthritis dan meningkatkan kualitas hidup penderita.

Secara keseluruhan, sifat anti-inflamasi yang dimiliki sayuran ini memberikan kontribusi penting dalam menjaga kesehatan dan mencegah berbagai penyakit. Kemampuan untuk meredakan peradangan kronis memberikan dampak protektif terhadap berbagai organ dan sistem tubuh, sehingga menjadikannya sebagai bagian penting dari diet sehat.

Jantung Sehat

Korelasi antara konsumsi daun prei dan kesehatan jantung didasarkan pada beberapa faktor kunci, termasuk kandungan nutrisi dan senyawa bioaktif di dalamnya. Daun prei mengandung kalium, serat, dan senyawa organosulfur yang berkontribusi pada fungsi kardiovaskular yang optimal.

  • Kalium dan Regulasi Tekanan Darah: Kalium adalah mineral penting yang berperan dalam mengatur tekanan darah. Asupan kalium yang cukup membantu menyeimbangkan efek natrium dalam tubuh, sehingga membantu menjaga tekanan darah dalam rentang normal. Tekanan darah tinggi merupakan faktor risiko utama penyakit jantung, sehingga pengaturan tekanan darah yang efektif sangat penting untuk kesehatan jantung.
  • Serat dan Pengendalian Kolesterol: Serat, khususnya serat larut, dapat membantu menurunkan kadar kolesterol LDL (kolesterol "jahat") dalam darah. Serat larut mengikat kolesterol di saluran pencernaan dan mencegah penyerapannya ke dalam aliran darah. Penurunan kadar kolesterol LDL membantu mencegah pembentukan plak di arteri (aterosklerosis), yang dapat menyebabkan penyempitan dan penyumbatan pembuluh darah, meningkatkan risiko serangan jantung dan stroke.
  • Senyawa Organosulfur dan Fungsi Pembuluh Darah: Senyawa organosulfur, seperti allicin, yang juga ditemukan pada bawang putih, memiliki efek positif pada fungsi pembuluh darah. Senyawa ini dapat membantu meningkatkan produksi oksida nitrat (NO), molekul yang melebarkan pembuluh darah dan meningkatkan aliran darah. Peningkatan aliran darah membantu mengurangi tekanan pada jantung dan meningkatkan pasokan oksigen dan nutrisi ke jaringan jantung.
  • Antioksidan dan Perlindungan Terhadap Kerusakan Oksidatif: Daun prei mengandung antioksidan, seperti vitamin C dan flavonoid, yang membantu melindungi sel-sel jantung dari kerusakan akibat radikal bebas. Kerusakan oksidatif dapat berkontribusi pada perkembangan aterosklerosis dan penyakit jantung lainnya. Antioksidan membantu menetralkan radikal bebas dan mencegah kerusakan seluler.
  • Efek Anti-inflamasi dan Pengurangan Risiko Aterosklerosis: Peradangan kronis memainkan peran penting dalam perkembangan aterosklerosis. Senyawa anti-inflamasi dalam sayuran ini dapat membantu mengurangi peradangan di arteri, mencegah pembentukan plak, dan menurunkan risiko penyakit jantung.

Dengan demikian, konsumsi daun prei sebagai bagian dari diet seimbang dapat memberikan kontribusi positif terhadap kesehatan jantung melalui berbagai mekanisme, termasuk pengaturan tekanan darah, pengendalian kolesterol, peningkatan fungsi pembuluh darah, perlindungan terhadap kerusakan oksidatif, dan pengurangan peradangan. Penting untuk diingat bahwa konsumsi sayuran ini sebaiknya dikombinasikan dengan gaya hidup sehat lainnya, seperti olahraga teratur dan tidak merokok, untuk mendapatkan manfaat yang optimal bagi kesehatan jantung.

Kesehatan Tulang

Asupan nutrisi yang memadai berperan krusial dalam menjaga kepadatan dan kekuatan tulang sepanjang hidup. Meskipun bukan sumber utama, sayuran dari keluarga Allium ini memberikan kontribusi kecil namun signifikan terhadap kesehatan tulang melalui kandungan vitamin K, kalsium, dan mineral lainnya. Vitamin K esensial untuk pembentukan protein osteokalsin, yang berperan dalam mineralisasi tulang. Mineralisasi tulang adalah proses penyerapan kalsium dan mineral lain ke dalam matriks tulang, sehingga meningkatkan kepadatan dan kekuatannya. Kekurangan vitamin K dapat mengganggu proses mineralisasi tulang dan meningkatkan risiko osteoporosis.

Kalsium, meskipun tidak dalam jumlah besar, tetap memberikan kontribusi terhadap kebutuhan kalsium harian. Kalsium merupakan mineral utama penyusun tulang dan gigi, dan asupan yang cukup sangat penting untuk menjaga kepadatan tulang. Selain itu, sayuran ini juga mengandung mineral lain seperti magnesium dan mangan, yang juga berperan dalam kesehatan tulang. Magnesium membantu mengatur metabolisme kalsium dan vitamin D, sementara mangan terlibat dalam pembentukan kolagen, protein yang memberikan struktur dan kekuatan pada tulang.

Lebih lanjut, senyawa organosulfur yang terkandung di dalamnya memiliki potensi untuk mengurangi peradangan kronis. Peradangan kronis dapat berkontribusi pada kerusakan tulang dan meningkatkan risiko osteoporosis. Dengan mengurangi peradangan, senyawa-senyawa ini dapat membantu melindungi tulang dari kerusakan. Meskipun penelitian lebih lanjut masih diperlukan untuk mengkonfirmasi efek langsung sayuran ini pada kesehatan tulang, konsumsinya sebagai bagian dari diet seimbang, bersama dengan sumber kalsium dan vitamin D yang adekuat, dapat memberikan dukungan tambahan untuk menjaga kesehatan tulang sepanjang hidup.

Regulasi Gula Darah

Pengaturan kadar glukosa dalam darah merupakan proses vital bagi kesehatan metabolik. Ketidakseimbangan kadar gula darah dapat memicu berbagai komplikasi kesehatan, termasuk diabetes tipe 2. Konsumsi sayuran tertentu, termasuk anggota keluarga Allium ini, dapat berkontribusi pada stabilisasi kadar gula darah melalui mekanisme spesifik.

  • Serat dan Penyerapan Glukosa yang Lebih Lambat

    Kandungan serat pada sayuran ini, terutama serat larut, memperlambat proses pencernaan dan penyerapan glukosa dari makanan ke dalam aliran darah. Hal ini mencegah lonjakan kadar gula darah setelah makan, yang penting untuk mencegah resistensi insulin dan menjaga sensitivitas insulin.

  • Allicin dan Peningkatan Sensitivitas Insulin

    Senyawa allicin, yang juga ditemukan pada bawang putih, menunjukkan potensi dalam meningkatkan sensitivitas insulin. Insulin adalah hormon yang memungkinkan glukosa masuk ke dalam sel untuk digunakan sebagai energi. Peningkatan sensitivitas insulin memungkinkan tubuh menggunakan glukosa secara lebih efisien, sehingga menurunkan kadar gula darah.

  • Antioksidan dan Perlindungan Sel Beta Pankreas

    Sel beta pankreas bertanggung jawab untuk memproduksi insulin. Radikal bebas dapat merusak sel beta, mengganggu produksi insulin. Antioksidan yang terkandung dalam sayuran ini melindungi sel beta dari kerusakan oksidatif, sehingga memastikan produksi insulin yang adekuat.

  • Efek Anti-inflamasi dan Pengurangan Resistensi Insulin

    Peradangan kronis dapat menyebabkan resistensi insulin. Sifat anti-inflamasi pada sayuran ini membantu mengurangi peradangan sistemik, yang pada gilirannya dapat meningkatkan sensitivitas insulin dan membantu mengatur kadar gula darah.

  • Kromium dan Metabolisme Glukosa

    Meskipun dalam jumlah kecil, sayuran ini mengandung kromium, mineral yang berperan dalam metabolisme glukosa. Kromium membantu insulin mengikat reseptornya pada sel, memfasilitasi masuknya glukosa ke dalam sel. Kekurangan kromium dapat mengganggu metabolisme glukosa dan menyebabkan resistensi insulin.

Meskipun bukan pengganti pengobatan medis, integrasi sayuran ini ke dalam pola makan seimbang dapat memberikan dukungan tambahan dalam regulasi gula darah. Kombinasi serat, allicin, antioksidan, efek anti-inflamasi, dan kandungan kromium berkontribusi pada stabilisasi kadar gula darah dan pencegahan komplikasi terkait diabetes.

Tips Pemanfaatan Optimal Sayuran Allium untuk Kesehatan

Integrasi sayuran dari keluarga Allium ke dalam menu sehari-hari memerlukan pemahaman tentang cara memaksimalkan potensi manfaatnya. Berikut adalah beberapa panduan untuk mengoptimalkan konsumsi sayuran ini:

Tip 1: Konsumsi Secara Teratur dalam Jumlah Moderat
Manfaat kesehatan yang optimal diperoleh melalui konsumsi rutin sebagai bagian dari pola makan seimbang, bukan sebagai konsumsi sporadis dalam jumlah besar. Tambahkan sayuran ini ke dalam berbagai masakan, seperti sup, tumisan, atau salad, secara teratur.

Tip 2: Kombinasikan dengan Makanan Sehat Lainnya
Efektivitas sayuran ini dalam meningkatkan kesehatan akan lebih terasa jika dikombinasikan dengan makanan sehat lainnya, seperti buah-buahan, sayuran lain, biji-bijian utuh, dan sumber protein tanpa lemak. Kombinasi nutrisi yang beragam memberikan efek sinergis yang lebih kuat.

Tip 3: Perhatikan Cara Pengolahan
Proses pengolahan dapat memengaruhi kandungan nutrisi. Hindari memasak terlalu lama atau dengan suhu terlalu tinggi, karena dapat merusak beberapa senyawa aktif. Menumis sebentar atau mengonsumsinya mentah (jika aman dan higienis) dapat mempertahankan lebih banyak nutrisi.

Tip 4: Variasikan dengan Anggota Keluarga Allium Lainnya
Keluarga Allium mencakup berbagai jenis sayuran, seperti bawang putih, bawang merah, dan daun bawang. Variasi konsumsi memberikan asupan nutrisi yang lebih lengkap dan mencegah kebosanan.

Tip 5: Pertimbangkan Kondisi Kesehatan Individu
Beberapa individu mungkin mengalami reaksi alergi atau intoleransi terhadap sayuran ini. Jika mengalami gejala yang tidak biasa setelah mengonsumsi, konsultasikan dengan profesional kesehatan.

Tip 6: Jangan Mengandalkan Sebagai Pengobatan Tunggal
Meskipun memiliki potensi manfaat kesehatan, sayuran ini bukanlah pengganti pengobatan medis. Tetap ikuti anjuran dokter dan gunakan sayuran ini sebagai bagian dari pendekatan holistik untuk kesehatan.

Pemanfaatan optimal sayuran ini melibatkan konsumsi rutin, kombinasi dengan makanan sehat, perhatian pada cara pengolahan, variasi jenis, pertimbangan kondisi kesehatan individu, dan pemahaman bahwa sayuran ini bukanlah pengganti pengobatan medis. Dengan mengikuti panduan ini, individu dapat memaksimalkan potensi manfaat kesehatan yang ditawarkan oleh sayuran ini.

Bukti Ilmiah dan Studi Kasus

Penelitian mengenai khasiat sayuran Allium fistulosum bagi kesehatan manusia terus berkembang. Beberapa studi observasional menunjukkan korelasi antara konsumsi rutin sayuran ini dan penurunan risiko penyakit kardiovaskular. Studi-studi ini umumnya menggunakan kuesioner frekuensi makanan untuk mengumpulkan data asupan dan membandingkannya dengan kejadian penyakit jantung dalam jangka waktu tertentu. Meskipun studi observasional tidak dapat membuktikan hubungan sebab-akibat, hasil yang konsisten dari beberapa studi memberikan dasar untuk penelitian lebih lanjut.

Studi intervensi, di mana partisipan secara acak ditugaskan untuk mengonsumsi atau tidak mengonsumsi sayuran ini dalam jumlah tertentu, memberikan bukti yang lebih kuat. Beberapa studi intervensi kecil menunjukkan bahwa konsumsi sayuran ini dapat menurunkan tekanan darah sistolik dan diastolik pada individu dengan hipertensi ringan. Studi-studi ini umumnya melibatkan pengukuran tekanan darah secara berkala selama periode intervensi dan membandingkannya dengan kelompok kontrol. Namun, ukuran sampel yang kecil dan durasi studi yang relatif singkat membatasi generalisasi hasil.

Terdapat pula penelitian in vitro dan in vivo yang meneliti mekanisme aksi senyawa-senyawa bioaktif yang terkandung dalam sayuran ini. Studi-studi ini menunjukkan bahwa senyawa organosulfur, seperti allicin, memiliki sifat antioksidan dan anti-inflamasi, yang dapat berkontribusi pada perlindungan terhadap kerusakan seluler dan penyakit kronis. Namun, perlu dicatat bahwa hasil dari penelitian in vitro dan in vivo tidak selalu dapat direplikasi pada manusia.

Interpretasi bukti ilmiah mengenai khasiat sayuran ini memerlukan kehati-hatian. Penting untuk mempertimbangkan metodologi studi, ukuran sampel, durasi intervensi, dan potensi bias. Selain itu, respons individu terhadap sayuran ini dapat bervariasi, tergantung pada faktor genetik, gaya hidup, dan kondisi kesehatan yang mendasari. Penelitian lebih lanjut dengan desain yang lebih ketat dan ukuran sampel yang lebih besar diperlukan untuk mengkonfirmasi khasiat sayuran ini dan menentukan dosis optimal untuk mendapatkan manfaat kesehatan yang maksimal.