Temukan 7 Manfaat Buah Jarak, Khasiat yang Jarang Diketahui

Jumat, 25 Juli 2025 oleh journal

Biji tanaman Ricinus communis menghasilkan sumber daya yang berpotensi berguna bagi kesehatan dan industri. Kandungan di dalamnya diyakini memiliki khasiat tertentu, mulai dari perawatan kulit hingga potensi sebagai bahan bakar alternatif. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memahami sepenuhnya implikasi penggunaannya dan memastikan keamanannya.

Potensi terapeutik dari tanaman Ricinus communis memang menarik, namun masyarakat perlu berhati-hati. Penelitian yang ada masih sangat terbatas dan belum ada bukti klinis yang kuat untuk mendukung klaim manfaat kesehatannya secara luas. Penggunaan tanpa pengawasan medis dapat menimbulkan risiko, ujar dr. Amelia Rahayu, seorang ahli gizi klinis.

Temukan 7 Manfaat Buah Jarak, Khasiat yang Jarang Diketahui

Menurut dr. Rahayu, meskipun beberapa penelitian in vitro dan pada hewan menunjukkan aktivitas antioksidan dan anti-inflamasi dari senyawa seperti ricinoleic acid yang terdapat dalam biji tersebut, efektivitas dan keamanannya pada manusia masih perlu dievaluasi lebih lanjut.

Senyawa-senyawa aktif yang terkandung dalam biji tanaman ini memang menunjukkan potensi untuk mengatasi peradangan dan melindungi sel dari kerusakan akibat radikal bebas. Namun, penting untuk diingat bahwa biji ini juga mengandung ricin, sebuah toksin yang sangat berbahaya. Pengolahan yang tidak tepat dapat menyebabkan keracunan serius. Karena itu, konsultasi dengan tenaga medis profesional sangat disarankan sebelum mempertimbangkan penggunaan produk turunan dari tanaman ini untuk tujuan kesehatan. Penggunaan topikal (pada kulit) mungkin lebih aman dibandingkan konsumsi langsung, namun tetap perlu dilakukan uji alergi terlebih dahulu.

Manfaat Buah Jarak

Biji jarak, atau Ricinus communis, memiliki potensi manfaat yang beragam, meskipun perlu diingat bahwa penggunaannya harus dilakukan dengan sangat hati-hati karena kandungan toksiknya. Berikut adalah beberapa manfaat penting yang terkait dengan biji jarak:

  • Potensi laksatif
  • Pelumas industri
  • Bahan bakar alternatif
  • Perawatan kulit (topikal)
  • Anti-inflamasi (terbatas)
  • Potensi antioksidan (terbatas)
  • Pengendalian hama (pertanian)

Meskipun biji jarak memiliki berbagai potensi manfaat, seperti dalam pembuatan biodiesel sebagai alternatif bahan bakar, atau sebagai pelumas industri yang ramah lingkungan, penting untuk diingat risiko terkait dengan kandungan toksinnya. Penggunaan dalam perawatan kulit memerlukan proses ekstraksi dan pemurnian yang ketat untuk menghilangkan racun. Sementara potensi laksatifnya harus dimanfaatkan dengan sangat hati-hati di bawah pengawasan medis untuk menghindari efek samping yang tidak diinginkan. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengeksplorasi potensi manfaat lainnya dan memastikan keamanan penggunaannya secara luas.

Potensi Laksatif

Ekstrak dari tanaman Ricinus communis, khususnya minyak yang diekstrak dari bijinya, telah lama dikenal dan dimanfaatkan karena efek laksatifnya. Mekanisme kerjanya melibatkan peningkatan pergerakan peristaltik usus, yang membantu mempercepat proses pengosongan usus dan meredakan konstipasi. Senyawa aktif utama yang bertanggung jawab atas efek ini adalah asam risinoleat, yang dihasilkan selama proses pencernaan minyak jarak. Asam risinoleat mengiritasi lapisan usus, memicu kontraksi otot-otot di dinding usus sehingga mendorong tinja keluar.

Meskipun efektif sebagai pencahar, pemanfaatan senyawa ini untuk tujuan tersebut memerlukan kehati-hatian. Penggunaan berlebihan atau berkepanjangan dapat menyebabkan dehidrasi, ketidakseimbangan elektrolit, dan ketergantungan usus terhadap stimulan eksternal untuk berfungsi dengan baik. Oleh karena itu, penggunaannya sebaiknya dilakukan hanya dalam jangka pendek dan di bawah pengawasan profesional medis, terutama bagi individu dengan kondisi kesehatan tertentu atau yang sedang mengonsumsi obat-obatan lain. Alternatif lain yang lebih lembut dan aman untuk mengatasi konstipasi, seperti peningkatan asupan serat dan cairan, serta olahraga teratur, sebaiknya dipertimbangkan terlebih dahulu.

Penting untuk dicatat bahwa bagian tanaman Ricinus communis mengandung senyawa toksik yang dapat membahayakan kesehatan jika tidak diolah dengan benar. Proses ekstraksi dan pemurnian yang tepat sangat penting untuk memisahkan senyawa yang bermanfaat dari senyawa berbahaya. Oleh karena itu, mengonsumsi ekstrak secara langsung tanpa pengawasan ahli sangat tidak disarankan.

Pelumas Industri

Pemanfaatan tanaman Ricinus communis merambah sektor industri, khususnya sebagai sumber pelumas yang memiliki karakteristik unik. Minyak yang diekstrak dari biji tanaman ini menawarkan alternatif menarik dibandingkan pelumas konvensional berbasis minyak bumi, dengan potensi keberlanjutan yang lebih tinggi.

  • Biodegradabilitas

    Minyak dari biji tanaman Ricinus communis memiliki sifat mudah terurai secara hayati (biodegradable). Keunggulan ini mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan jika terjadi tumpahan atau kebocoran, berbeda dengan pelumas sintetis yang lebih persisten di alam.

  • Viskositas Stabil

    Pelumas yang berasal dari tanaman ini menunjukkan stabilitas viskositas yang baik pada berbagai suhu operasional. Karakteristik ini penting untuk menjaga kinerja pelumasan yang optimal pada mesin dan peralatan industri, bahkan dalam kondisi ekstrem.

  • Kandungan Aditif Alami

    Secara alami, minyak dari tanaman Ricinus communis mengandung senyawa yang berfungsi sebagai aditif pelumas, seperti antioksidan dan anti-aus. Kehadiran senyawa ini dapat meningkatkan umur pakai pelumas dan mengurangi gesekan serta keausan pada komponen mesin.

  • Aplikasi Khusus

    Karena sifat-sifat uniknya, pelumas berbasis tanaman ini sering digunakan dalam aplikasi khusus, seperti pelumas untuk mesin berkecepatan tinggi, pelumas yang bersentuhan dengan makanan (food-grade lubricants), dan pelumas untuk industri tekstil.

  • Sumber Terbarukan

    Sebagai sumber daya terbarukan, budidaya tanaman Ricinus communis untuk produksi pelumas dapat mengurangi ketergantungan pada sumber daya fosil yang terbatas. Hal ini mendukung praktik industri yang lebih berkelanjutan dan ramah lingkungan.

Dengan demikian, pemanfaatan tanaman Ricinus communis sebagai bahan baku pelumas industri tidak hanya menawarkan alternatif yang berkelanjutan, tetapi juga memberikan keuntungan teknis dan lingkungan. Pengembangan lebih lanjut dalam teknologi pengolahan dan formulasi dapat membuka potensi yang lebih besar lagi untuk aplikasi yang lebih luas.

Bahan Bakar Alternatif

Tanaman Ricinus communis, atau jarak, memiliki potensi dalam pengembangan bahan bakar alternatif sebagai respons terhadap kebutuhan energi yang berkelanjutan dan pengurangan emisi karbon. Pemanfaatan biji jarak untuk produksi bahan bakar alternatif membuka peluang untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil.

  • Biodiesel dari Minyak Jarak

    Minyak yang diekstrak dari biji jarak dapat diolah menjadi biodiesel melalui proses transesterifikasi. Biodiesel ini dapat digunakan sebagai pengganti atau campuran dengan bahan bakar diesel konvensional pada mesin diesel. Proses ini melibatkan reaksi minyak jarak dengan alkohol (biasanya metanol atau etanol) dengan bantuan katalis untuk menghasilkan ester (biodiesel) dan gliserol.

  • Keunggulan Biodiesel Jarak

    Biodiesel yang dihasilkan dari minyak jarak memiliki beberapa keunggulan dibandingkan diesel konvensional. Diantaranya adalah sifatnya yang lebih biodegradable, emisi gas rumah kaca yang lebih rendah, dan kandungan sulfur yang sangat rendah atau bahkan nol. Biodiesel juga dapat meningkatkan performa mesin diesel karena sifat pelumasannya yang lebih baik.

  • Tantangan dalam Produksi Biodiesel Jarak

    Meskipun memiliki potensi yang besar, produksi biodiesel dari minyak jarak juga menghadapi beberapa tantangan. Salah satunya adalah kandungan racun (ricin) dalam biji jarak, yang memerlukan proses pengolahan yang hati-hati dan efisien untuk menghilangkan racun tersebut. Selain itu, skala produksi dan ketersediaan bahan baku yang berkelanjutan juga menjadi faktor penting dalam pengembangan biodiesel jarak secara komersial.

  • Pengembangan Varietas Jarak Non-Toksik

    Upaya penelitian terus dilakukan untuk mengembangkan varietas tanaman jarak yang memiliki kandungan ricin yang rendah atau bahkan non-toksik. Pengembangan varietas ini akan mempermudah proses pengolahan dan mengurangi risiko terkait dengan kandungan racun dalam biji jarak.

  • Integrasi dengan Pertanian Berkelanjutan

    Budidaya tanaman jarak dapat diintegrasikan dengan praktik pertanian berkelanjutan, seperti rotasi tanaman dan penggunaan pupuk organik. Hal ini dapat meningkatkan produktivitas lahan, mengurangi penggunaan pupuk kimia, dan meningkatkan keberlanjutan sistem pertanian secara keseluruhan.

  • Potensi Ekonomi dan Sosial

    Pengembangan industri biodiesel jarak dapat menciptakan lapangan kerja baru di sektor pertanian dan industri pengolahan. Selain itu, pengembangan ini juga dapat meningkatkan pendapatan petani dan mengurangi ketergantungan pada impor bahan bakar fosil.

Dengan demikian, pemanfaatan tanaman jarak sebagai bahan baku biodiesel menawarkan solusi yang menjanjikan untuk memenuhi kebutuhan energi yang berkelanjutan. Namun, pengembangan industri ini memerlukan perhatian yang cermat terhadap aspek lingkungan, sosial, dan ekonomi untuk memastikan keberlanjutannya dalam jangka panjang. Penelitian dan pengembangan lebih lanjut diperlukan untuk mengatasi tantangan teknis dan meningkatkan efisiensi produksi biodiesel jarak.

Perawatan kulit (topikal)

Minyak yang diekstrak dari biji Ricinus communis telah lama dimanfaatkan dalam ranah perawatan kulit, khususnya melalui aplikasi topikal. Penggunaan ini didasarkan pada beberapa karakteristik unik dari minyak tersebut, termasuk kandungan asam lemak risinoleat yang tinggi. Asam risinoleat diyakini memiliki sifat anti-inflamasi dan antimikroba, yang berpotensi membantu mengatasi masalah kulit tertentu.

Salah satu manfaat yang sering dikaitkan adalah kemampuannya untuk melembapkan kulit. Struktur molekul minyak tersebut memungkinkan pembentukan lapisan oklusif pada permukaan kulit, mengurangi penguapan air dan menjaga hidrasi. Selain itu, minyak ini juga dapat digunakan sebagai agen pembersih, membantu mengangkat kotoran dan minyak berlebih dari pori-pori.

Namun, perlu diperhatikan bahwa penggunaan topikal minyak dari biji tanaman ini memerlukan kehati-hatian. Meskipun memiliki potensi manfaat, beberapa individu mungkin mengalami reaksi alergi atau iritasi kulit. Oleh karena itu, disarankan untuk melakukan uji tempel pada area kecil kulit sebelum mengaplikasikannya secara luas. Selain itu, memastikan kualitas dan kemurnian minyak sangat penting untuk menghindari kontaminasi dengan zat berbahaya.

Penelitian ilmiah yang mendukung klaim manfaat perawatan kulit topikal dengan minyak ini masih terbatas, dan sebagian besar didasarkan pada bukti anekdotal dan studi in vitro. Diperlukan penelitian lebih lanjut untuk mengkonfirmasi efektivitas dan keamanan penggunaannya secara komprehensif.

Penggunaan pada kondisi kulit tertentu, seperti eksim atau psoriasis, sebaiknya dilakukan dengan konsultasi terlebih dahulu dengan dokter kulit. Hal ini penting untuk memastikan bahwa penggunaan minyak tersebut sesuai dengan kondisi kulit dan tidak berinteraksi negatif dengan pengobatan lain yang mungkin sedang dijalani.

Anti-inflamasi (terbatas)

Ekstrak dari tanaman Ricinus communis, khususnya minyak bijinya, menunjukkan potensi aktivitas anti-inflamasi, meskipun bukti yang ada saat ini masih terbatas dan memerlukan penelitian lebih lanjut. Senyawa risinoleat, yang merupakan komponen utama minyak tersebut, diduga berperan dalam efek anti-inflamasi ini. Beberapa studi in vitro dan pada hewan menunjukkan bahwa risinoleat dapat menghambat produksi mediator inflamasi, seperti prostaglandin dan sitokin, yang terlibat dalam proses peradangan.

Meskipun hasil penelitian awal ini menjanjikan, penting untuk dicatat bahwa efektivitas dan keamanan penggunaan ekstrak tanaman ini sebagai agen anti-inflamasi pada manusia belum sepenuhnya terbukti. Sebagian besar penelitian masih berada pada tahap praklinis, dan diperlukan uji klinis yang lebih besar dan terkontrol dengan baik untuk mengkonfirmasi potensi manfaatnya dan menentukan dosis yang aman dan efektif.

Selain itu, perlu diingat bahwa tanaman Ricinus communis mengandung senyawa toksik, yaitu risin. Oleh karena itu, penggunaan ekstraknya untuk tujuan anti-inflamasi harus dilakukan dengan sangat hati-hati dan di bawah pengawasan medis yang ketat. Pengolahan yang tidak tepat dapat menyebabkan keracunan serius. Konsultasi dengan profesional kesehatan sangat disarankan sebelum mempertimbangkan penggunaan produk turunan tanaman ini untuk mengatasi peradangan.

Dengan demikian, potensi anti-inflamasi dari tanaman Ricinus communis masih dalam tahap eksplorasi awal. Meskipun terdapat indikasi positif, bukti yang ada saat ini belum cukup kuat untuk merekomendasikan penggunaannya secara luas sebagai agen anti-inflamasi. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memahami mekanisme kerjanya secara lebih mendalam dan memastikan keamanannya bagi manusia.

Potensi antioksidan (terbatas)

Beberapa penelitian awal mengindikasikan bahwa ekstrak dari tanaman Ricinus communis mungkin memiliki aktivitas antioksidan. Aktivitas ini dihubungkan dengan kemampuan senyawa-senyawa tertentu yang terkandung di dalamnya untuk menetralkan radikal bebas, molekul tidak stabil yang dapat merusak sel-sel tubuh dan berkontribusi pada berbagai penyakit kronis. Namun, penting untuk dicatat bahwa bukti yang mendukung klaim ini masih terbatas dan sebagian besar berasal dari studi in vitro (dalam tabung reaksi) dan pada hewan.

Studi-studi ini menunjukkan bahwa senyawa-senyawa seperti flavonoid dan fenolik yang terdapat dalam ekstrak tanaman ini mungkin berperan dalam aktivitas antioksidan. Senyawa-senyawa ini dapat bertindak sebagai "pemulung" radikal bebas, mencegah kerusakan oksidatif pada lipid, protein, dan DNA. Akan tetapi, efektivitas antioksidan ekstrak tanaman ini dalam tubuh manusia belum sepenuhnya dipahami.

Lebih lanjut, perlu diingat bahwa tanaman ini juga mengandung senyawa toksik, yaitu risin. Oleh karena itu, konsumsi langsung biji atau ekstrak tanpa pengolahan yang tepat sangat berbahaya dan dapat menyebabkan keracunan serius. Proses ekstraksi dan pemurnian yang ketat diperlukan untuk menghilangkan risin dan memastikan keamanan produk yang digunakan. Karena potensi risiko ini, sumber antioksidan yang lebih aman dan terbukti secara klinis, seperti buah-buahan dan sayuran segar, umumnya lebih disarankan.

Singkatnya, meskipun terdapat indikasi bahwa ekstrak tanaman Ricinus communis mungkin memiliki aktivitas antioksidan, bukti yang ada masih terbatas dan diperlukan penelitian lebih lanjut untuk mengkonfirmasi efektivitas dan keamanannya pada manusia. Risiko terkait dengan kandungan toksiknya juga perlu dipertimbangkan dengan serius.

Pengendalian hama (pertanian)

Pemanfaatan tanaman Ricinus communis dalam konteks pertanian, khususnya dalam pengendalian hama, merupakan area yang menarik untuk dieksplorasi. Potensi ini muncul dari kandungan senyawa bioaktif tertentu yang dapat mempengaruhi perilaku atau pertumbuhan hama, menawarkan alternatif pengendalian yang lebih ramah lingkungan dibandingkan pestisida sintetis.

  • Ekstrak Biji sebagai Bio-Pestisida

    Ekstrak dari biji tanaman Ricinus communis menunjukkan aktivitas insektisida terhadap beberapa jenis hama pertanian. Senyawa seperti risin dan senyawa terpenoid yang terkandung di dalamnya dapat mengganggu sistem saraf atau metabolisme hama, menyebabkan kematian atau menghambat perkembangbiakannya. Penerapan ekstrak ini dapat mengurangi ketergantungan pada pestisida kimia yang berpotensi mencemari lingkungan.

  • Pengusir Hama Alami

    Aroma atau senyawa volatil yang dihasilkan oleh tanaman Ricinus communis dapat berfungsi sebagai pengusir hama alami. Menanam tanaman ini di sekitar lahan pertanian dapat membantu menjauhkan hama tertentu, mengurangi kerusakan pada tanaman utama. Efek pengusir ini dapat menjadi bagian dari strategi pengendalian hama terpadu (integrated pest management/IPM).

  • Pengendalian Nematoda

    Beberapa penelitian menunjukkan bahwa ekstrak atau residu tanaman Ricinus communis dapat efektif dalam mengendalikan nematoda parasit tumbuhan di dalam tanah. Nematoda dapat merusak akar tanaman dan menyebabkan penurunan hasil panen. Penggunaan bahan-bahan organik dari tanaman ini dapat meningkatkan kesehatan tanah dan mengurangi populasi nematoda.

  • Pemanfaatan Ampas Biji

    Ampas biji Ricinus communis yang tersisa setelah ekstraksi minyak dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik dan sekaligus sebagai agen pengendali hama. Kandungan nitrogen dan nutrisi lainnya dalam ampas biji dapat menyuburkan tanah, sementara senyawa bioaktifnya dapat membantu menekan pertumbuhan hama dan penyakit tanaman.

  • Perlindungan Tanaman Pasca Panen

    Ekstrak dari tanaman ini juga dapat digunakan untuk melindungi hasil panen dari serangan hama pasca panen, seperti serangga gudang. Aplikasi ekstrak pada biji-bijian atau produk pertanian lainnya dapat menghambat pertumbuhan hama dan memperpanjang umur simpan produk.

  • Integrasi dalam Sistem Pertanian Campuran

    Menanam tanaman Ricinus communis sebagai bagian dari sistem pertanian campuran (intercropping) dapat memberikan beberapa manfaat, termasuk pengendalian hama secara alami. Tanaman ini dapat berfungsi sebagai tanaman perangkap (trap crop) yang menarik hama menjauh dari tanaman utama, atau sebagai tanaman pelindung (cover crop) yang meningkatkan kesehatan tanah dan mengurangi populasi hama.

Dengan demikian, pemanfaatan tanaman Ricinus communis dalam pengendalian hama pertanian menawarkan solusi yang berkelanjutan dan ramah lingkungan. Namun, penting untuk mempertimbangkan aspek keamanan dan efektivitas penggunaan ekstrak atau residu tanaman ini. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengoptimalkan penggunaan tanaman ini dalam sistem pertanian dan memastikan bahwa manfaatnya lebih besar daripada potensi risikonya.

Tips Memaksimalkan Potensi Ricinus communis dengan Bijak

Pemanfaatan tanaman Ricinus communis memerlukan pemahaman mendalam tentang potensi manfaat dan risiko yang terkait. Penerapan yang tepat dapat memberikan nilai tambah, namun kehati-hatian adalah kunci.

Tip 1: Prioritaskan Pengolahan yang Tepat
Sebelum memanfaatkan bagian mana pun dari tanaman ini, pastikan telah melalui proses pengolahan yang tepat untuk menghilangkan atau menetralkan senyawa toksik. Proses ini penting untuk meminimalkan risiko keracunan dan efek samping yang tidak diinginkan.

Tip 2: Konsultasi dengan Ahli
Sebelum mengonsumsi atau menggunakan produk turunan tanaman ini untuk tujuan kesehatan, konsultasikan dengan dokter atau ahli herbal yang kompeten. Mereka dapat memberikan saran berdasarkan kondisi kesehatan individu dan potensi interaksi dengan obat-obatan lain.

Tip 3: Pilih Produk yang Terstandarisasi
Jika memutuskan untuk menggunakan produk komersial yang mengandung ekstrak tanaman ini, pilih produk yang telah teruji dan memiliki sertifikasi yang jelas. Hal ini untuk memastikan kualitas, keamanan, dan konsistensi kandungan senyawa aktif di dalamnya.

Tip 4: Gunakan Secara Topikal dengan Hati-Hati
Jika menggunakan minyak dari tanaman ini untuk perawatan kulit, lakukan uji tempel terlebih dahulu pada area kecil kulit untuk mengidentifikasi potensi alergi atau iritasi. Gunakan dalam konsentrasi rendah dan hindari penggunaan pada kulit yang luka atau iritasi.

Tip 5: Perhatikan Dosis dan Durasi Penggunaan
Ikuti petunjuk penggunaan yang tertera pada produk atau saran dari ahli kesehatan terkait dosis dan durasi penggunaan. Penggunaan berlebihan atau berkepanjangan dapat meningkatkan risiko efek samping.

Tip 6: Pertimbangkan Alternatif yang Lebih Aman
Sebelum mengandalkan produk turunan tanaman ini, pertimbangkan alternatif lain yang lebih aman dan terbukti secara klinis untuk mengatasi masalah kesehatan atau kebutuhan industri yang serupa. Prioritaskan solusi yang memiliki profil risiko yang lebih rendah.

Pemanfaatan tanaman Ricinus communis secara bijak memerlukan kombinasi pengetahuan, kehati-hatian, dan konsultasi dengan ahli. Dengan pendekatan yang tepat, potensi manfaatnya dapat dimaksimalkan sambil meminimalkan risiko yang mungkin timbul.

Bukti Ilmiah dan Studi Kasus

Penelitian mengenai aplikasi biji Ricinus communis telah menghasilkan beragam temuan yang menarik perhatian. Studi kasus di India, misalnya, menyoroti pemanfaatan minyak yang diekstrak dari biji ini sebagai pengobatan tradisional untuk arthritis. Pengamatan menunjukkan pengurangan peradangan dan nyeri sendi setelah penggunaan topikal secara teratur. Namun, penting untuk dicatat bahwa studi ini bersifat observasional dan tidak memiliki kontrol plasebo, sehingga interpretasi hasilnya memerlukan kehati-hatian.

Penelitian lain, yang dilakukan di laboratorium farmakologi sebuah universitas di Nigeria, menguji aktivitas antimikroba ekstrak biji Ricinus communis terhadap beberapa jenis bakteri patogen. Hasilnya menunjukkan bahwa ekstrak tersebut memiliki kemampuan menghambat pertumbuhan bakteri, meskipun mekanisme kerjanya belum sepenuhnya dipahami. Studi ini menggunakan metode pengujian standar, namun perlu dikonfirmasi dengan studi klinis untuk menilai efektivitasnya pada infeksi manusia.

Terdapat pula perdebatan mengenai potensi hepatotoksik (kerusakan hati) dari senyawa tertentu yang terkandung dalam biji Ricinus communis. Beberapa laporan kasus menunjukkan adanya gangguan fungsi hati setelah konsumsi biji atau ekstrak yang tidak diolah dengan benar. Hal ini menekankan pentingnya pengolahan yang tepat untuk menghilangkan atau menetralkan senyawa toksik sebelum digunakan. Di sisi lain, penelitian lain mengklaim bahwa dosis rendah ekstrak yang telah diproses dengan benar tidak menimbulkan efek samping yang signifikan pada fungsi hati. Kontradiksi ini menunjukkan perlunya penelitian lebih lanjut untuk memahami profil keamanan yang tepat.

Masyarakat diimbau untuk terlibat secara kritis dengan bukti yang ada. Studi kasus dan penelitian laboratorium memberikan wawasan yang berharga, namun tidak boleh dianggap sebagai bukti definitif. Konsultasi dengan profesional kesehatan yang kompeten sangat penting sebelum mempertimbangkan penggunaan produk turunan dari tanaman ini untuk tujuan terapeutik.